Membaca TL yang berjudul "maunya-suami" by Jamil azzaini, membuatku tergelitik untuk menuliskan hal ini.
Sebagai seorang istri akupun punya banyak punya kemauan.
Sebagai istri aku ingin segala kebutuhanku dan anak-anak tercukupi. Pekerjaan halal apapun yang dilakukan suami tidak menjadi masalah, karena aku sangat menghargai segala bentuk pengorbanan suami dalam hal mencari nafkah, karena itu adalah ibadah.
Sebagai istri aku ingin selalu disapa dangan tutur kata yang lembut dan bahasa yang mendamaikan hati.
Sebagai istri aku ingin suami selalu ada di sisiku saat aku sedang sedih ataupun senang. Menemaniku dan anak2 di setiap akhir pekan, dengan sekedar jalan2 atau icip2 wisata kuliner.
Sebagai istri aku ingin suamiku menjadi imamku yang bisa mengajak dan membimbingku untuk mendekat pada Allah SWT, menuntunku menjadi seorang istri yang solehah. Dan membawa kehidupan rumah tangga menjadi lahan ibadah yang bisa membawa seluruh keluargaku ke Surga.
Sebagai istri aku ingin selalu bisa curhat, diskusi dan ngobrol tentang apapun, menasehatiku saat aku melakukan kesalahan, memujiku saat aku melakukan kebaikan. Meluruskan saat jalanku mulai berbelok.
Aku memang belum menjadi istri yang sempurna, tapi itulah keinginanku terhadap suamiku. I Love U...forever..
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Catatan N.i.n.a.F.i.t.r.i.a.n.a
Dream, Pray and Action... Hidup akan mudah saat kita hanya berharap pada Allah SWT...
Rabu, 29 Agustus 2012
Senin, 25 Juni 2012
Cake jadi Cookies
Beberapa hari yang lalu seorang teman datang berkunjung ke rumah dengan membawa oleh2 cake pisang dan bolu gulung. Yaa berhubung saat itu di rumah kami tidak ada makanan cemilan ( hϱϱ..hϱϱ..hϱϱ...), jadilah kue oleh2 tersebut kami buat suguhan. Setelah tamu pulang, itu kue masih nyisa masing2 separuh potong. Aku pikir sih buat anak2 paling tar malam atau pagi masih mau dimakan lagi.
Eeee..sampe 2 hari itu kue dianggurin aja, gak ada yg noel sedikitpun. Sementara aku agak mengurangi makanan kudapan dari tepung terigu (☺hë•⌣•hë•⌣•hë•⌣•hë☺, diet nih ceritanya..).
Pagi ini aku ambil itu kue2, aku potong tipis dan kecil-kecil, aku olesi blueband dan taburi gula pasir. Yah kutata deh dalam loyang. Aku panggang hingga kering. Saat proses memanggang rupanya aroma kue tercium oleh kakak Rafy anak sulungku, dia bilang "hmmm...wanginya enaaaakkkk". Ah dasar si kakak...
Tereteeeetttt...kuenya sudah matang. Cake sisa yang gak kemakan sejak kemarin akhirnya menjadi kue cookies yang renyah. Dan ternyata anak-anak suka. Gak nunggu lama cookies udah habis dicemilin anak-anak sambil nonton televisi.
Hmm..alhamdulillaaaaahhh, akhirnya kue ini tidak mubadzir.
Rabu, 13 Juni 2012
Bisnis Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya
Dari milis TDA, Refleksi..
Ini cerita tentang pengusaha di negeri AntahBerantah. Di sana sedang terjadi euphoria wirausaha. Dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di kantor, di pinggir jalan, di dekat masjid, di rumah, dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di milis, orang jualan. Di forum-forum internet orang juga jualan. Di facebook dan twitter juga. Di Grup BB, apalagi. Via SMS, ga mau kalah.
Orang yang hampir pensiun, ingin jadi wirausaha. Lumayan pesangonnya besar, sayang kalau cuma dihabiskan begitu saja. Begitu alasannya.
Orang yang sudah mapan bekerja, merasa tidak nyaman, dan berkata, "kayaknya lebih enak wirausaha." Waktu lebih bisa diatur, masuk kantor bisa semau saya. Ga ada yang ngatur-ngatur. Bangun tidur bisa siang-siang. Dan segudang alasan lainnya.
Suami yang melihat istrinya bekerja di kantor, meminta istrinya resign. "Sudah, kamu bekerja saja dari rumah. Work at Home Mom, saja ya.., biar lebih banyak waktu untuk anak-anak kita" kata suaminya.
Yang lebih parah, suami yang melihat istrinya "menganggur" di rumah (padahal kan kerjaan istri di rumah banyak sekali ya..), dimodali untuk memulai wirausaha. "Coba kamu cari penghasilan sampingan deh. Nanti kalau penghasilan dari usaha itu sudah lebih dari gaji saya, saya resign untuk bantu membesarkan usaha itu. Gimana?" Begitu kata suaminya. Bener-bener deh..
Minggu, 03 Juni 2012
Simplicity is the Best
Jika dulu perbandingan antara keinginan dan kebutuhan adalah 60 : 40. Banyak keinginan2 yang sebetulnya bila dipikir tidak terlalu urgen untuk dimiliki atau dilakukan. Kini aku merubah perbandingan itu menjadi 40 : 60. Atau bahkan bisa menjadi 20 : 80. Apa artinya? Keinginan yang tidak begitu penting bisa aku tekan hingga 20%, aku hanya betul2 membeli dan melakukan apa yang benar2 aku butuhkan sebesar 80%. Manusiawi jika kita memiliki bermacam-macam keinginan. Padahal belum tentu keinginan tersebut adalah hal yang sangat kita butuhkan. Dalam kondisi tertentu kita harus bisa memilah dan seleksi betul terhadap apa yang menjadi kebutuhan kita. Hidup simplicity seperti yang diajarkan oleh pak Heppy Trenggono sungguh banyak membantuku dalam menata kembali kehidupanku. Aku menjadi lebih menghargai setiap tetes rupiah yang aku dapatkan sebagai rejeki Allah yang tak ternilai harganya, dan aku harus mempertanggungjawabkan setiap rejeki yang aku peroleh untuk hal-hal yang benar2 bermanfaat.
| Nih contoh cara senang dengan simplicity, hehe.. |
Langganan:
Entri (Atom)